Integritas Riset

Posted on Jul 12, 2025

Pengantar

Saya beberapa hari lalu mendapatkan berita yang menyangkut PT tempat saya belajar. Berita itu menyatakan urgensi tentang integritas penelitian yang rendah di Indonesia. Banyak dari Universitas ternama memiliki peringkat yang tinggi, semakin tinggi semakin buruk. Untuk peringkat aslinya dapat dilihat di situs ini. Sebagai salah satu dari mahasiswa yang belajar di Universitas kategori merah/red flag, saya ingin membagikan pengalaman saya mengenai penelitian di sini.

Grade A

Selama saya kuliah di salah satu jurusan yang terkenal dari Universitas Red Flag itu, ada setidaknya 3 mata kuliah yang mendorong mahasiswanya untuk mempublikasikan penelitian dengan iming-iming nilai A. Nilai A itu dapat dicapai jika mahasiswa menyelesaikan paper, mengumpulkan papernya di konferensi internasional, presentasi di konferensi itu, dan papernya rilis di konferensi internasional yang menterang. Kita berbicara tentang Scopus kalau di Indonesia. Susah ya? Iya, namanya juga untuk dapat nilai A. Di dalam kesusahan ada kemudahan, katanya. Oleh karena itu, beberapa oknum mulai mencari shortcut. Pernah saya dengar 1 penelitian (teman seangkatan saya yang meneliti) di mana dia pernah memanipulasi hasil penelitian. Dan lolos…ya, papernya ada di indeks Scopus. Keren kan?

Di semester 4, saya mendapat mata kuliah yang menjelaskan tentang Riset di jurusan yang saya minati. The catch is, untuk mendapatkan nilai A, setiap kelompok perlu submit dan accepted ke konferensi internasional. Satu kelompok beranggotakan 3 sampai 4 orang dan seangkatan saya ada 150 orang. Dalam 1 angkatan, 1 mata kuliah, akan ada minimal 50 paper yang terproduksi. Waktu itu, dosen saya menganjurkan supaya kami melakukan literature review saja. Maklum, di semester 4 proyek kita banyak cuy. Saya sekelompok dulu cuma submit aja tetapi ditolak, masih dapat B.

Writer

Apakah ada yang dapat A? Tentu ada dong. Dan apapun yang terjadi nama dosen pengampu mata kuliah itu akan dicantumkan sebagai penulis papernya. Nyatanya, dosen hanya berperan untuk mengawasi dan memberikan revisi, sama seperti dosen pembimbing skripsi. Bedanya, di skripsi dosem pembimbing ditulis namanya sebagai dosen pembimbing, di mata kuliah ini, dosen pembimbing ditulis namanya sebagai penulis. Dari sisi mahasiswa sendiri ya mau tidak mau menerima. Kalau tidak ada nama dosen yang dicantumkan, mereka harus membayar sendiri untuk biaya publikasinya. Biaya publikasi sendiri tidak sedikit, setahu saya bisa sampai 8 hingga 10 juta rupiah.

Realitas

Di Indonesia, kita masih bergelut dengan kenyataan bahwa kalau tidak dipaksa, akan sedikit sekali (seupil, seatom bahkan) mahasiswa yang berminat menulis paper. Sedangkan dosen diwajibkan untuk merilis minimal X paper di per semester/tahunnya (belum lagi gaji dosen di Indonesia yang…begitulah). Universitas juga saling bersaing untuk mendapatkan ketenaran dan keuntungan (kalau lebih tenar pasti lebih banyak yang mau daftar jadi mahasiswa dong😝). Oleh karena itu, publikasi hanya mengedepankan kuantitas dan tidak memperhatikan kuantitas.