Selumbar 1
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.
- Sepenggal ayat Alkitab
Aku hampir menginjak umur 21 tahun. Life expectancy dari seorang pria warga negara Indonesia adalah 60 tahunan. Aku masih punya sekitar 39 tahun lagi. Aku bertanya-tanya tentang hal sederhana. Aku bukan tipe yang easy-going, aku tahu itu. Aku memekur konsep-konsep seperti keluarga, uang, hukum, pertemanan, kewajiban, hak. Ketika aku berumur 12 tahun, aku dapat dengan percaya diri menjelaskan kepada siapapun yang bertanya:
- Apa arti keluarga kepada seorang kepala keluarga
- Apa arti uang kepada seorang penguasaha
- Apa arti hukum kepada seorang hakim, pengacara, dan jaksa
- Apa arti pertemanan kepada handai taulan dan kawan sebayaku
- Apa arti kewajiban dan hak kepada guru PKN
Kalau boleh jujur, aku tidak merasa bahwa jawaban yang kuberikan saat aku masih 12 tahun itu benar, setelah menjalani lebih dari 1/3 kehidupan. Pun, aku tidak merasa aku hidup sesuai dengan jawaban yang kuberikan. Aku tidak hidup sesusi prinsip yang diajarkan oleh mereka yang kuhormati. Aku ingin kalian tahu bahwa di dasar ngarai hatiku yang hening dan gelap ini, aku merasa gagal menjalani kehidupan. Sebagai keluarga, sebagai aktor ekonomi, sebagai warga negara, sebagai sahabat, dan sebagai manusia yang hidup bermasyarakat.
Aku tahu perasaan seperti ini datang dan pergi, bagai lebah yang menyintas menghisap nektar. Aku hanya ingin, “merasakannya dengan sepenuhnya” selama ini ada. Untuk “merasakan dengan sepenuhnya”, aku perlu
- Menangkapnya
- Mencucinya
- Mencetaknya Kurang lebih seperti pemrosesan foto pada zaman dahulu. Dan kalian tahu kan, kalau fotografer analog tidak dapat melihat hasil jepretan hingga fotonya selesai dicetak?
Aku menerapkan rangka kerja yang sama untuk perasaanku dan beranggapan bahwa perasaan seperti foto dalam film. Ya, seperti itu. Aku adalah fotografer perasaanku sendiri.
Apa arti keluarga?
Keluarga adalah orang yang terhubung dengan ikatan darah atau hukum…aku rasa hukum adalah kata yang terlalu berat, mungkin lebih tepatnya adalah administrasi negara. Selama seseorang hidup atau selama pernyataan keluarganya masih absah, dia selalu menjadi anggota keluarga. Setiap anggota memiliki tugasnya masing-masing, tipikal keluarga elementer memiliki anggota dan tugas sebagai berikut:
- Ayah: mencari nafkah
- Ibu: mengurus perihal
- Anak: belajar dan membantu orang tua Menjalani kehidupan berkeluarga membutuhkan pengorbanan. Bahkan bagi anak, pengorbanan yang dibuatnya seringkali tidaklah sesuai dengan kehendak mereka (anak tidak bisa memilih dilahirkan di dunia ini atau punya orang tua siapa). Namun, hal itu memiliki keindahan tersendiri menurutku. Orang tua juga sama berat pengorbanannya. Orang tua (yang baik) …yang sudah menjalani kehidupan lebih jauh, pasti menginginkan bahwa anaknya mengalami hidup yang lebih baik dengan mengurangi langkah yang salah dan memilih jalur yang paling lancar. Kehidupan yang ditata dengan janat itu…sayangnya tidak sesuai dengan kehendak anak. Ini pun menjadi keindahan.
Ingatlah, keluargaku, “Life is a tragedy when seen in close-up, but a comedy in long-shot.” Yeah this quote always applies.